Senin, 17 Desember 2012

Pengertian Intelektual



A.   Pengertian Intelektual
      Masyarakat umum mengenal intelektual sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun untuk memecahkan problem yang dihadapi (Azwar, 1996). Gambaran tentang mahasiswa yang berintelektual tinggi adalah lukisan mengenai mahasiswa pintar, selalu naik tingkat, meperoleh nilai baik, atau mahasiswa yang jempolan di kelasnya atau bintang kelas. Bahkan gambaran ini meluas pada citra fisik, yaitu sosok mahasiswa yang wajahnya bersih/berseri, berpakaian rapi, matanya bersinar atau berkacamata. Sebaliknya, mahasiswa yang berintelektual rendah memiliki sosok seseorang yang lambat berfikir, sulit memahami pelajaran prestasi belajar rendah, dan mulutnya lebih banyak menganga disertai tatapan mata kebingungan. Pendapat orang awam, seperti dipaparkan ini meskipun tidak memberikan arti yang jelas tentang intelektual, namun secara umum tidak jauh berbeda dari makna intelektual yang dikemukakan oleh para ahli.
      Banyak rumusan yang dikemukakan ahli tentang definisi intelektual. Masing-masing ahli member tekanan yang berbeda-beda sesuai dengan titik pandang untuk lebih memahami intelektual yang sesungguhnya. Berikut dikemukakan defenisi dari beberapa ahli tersebut sebagai berikut.
1.    Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan sesorang untuk meperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan maslah-masalah yang timbul (Gunarsa, 1991).
2.    Adrew Crider (dalam azwar, 1996) mengatakan bahwa intelektual itu bagaikan listrik, mudah diukur tapi mustahil untuk didefenisikan. Kalimat ini banyak benarnya. Tes intelegensi sudah dibuat sejak sekitar delapan decade yang lalu, akan tetapi sejauh ini belum ada defenisi intelektua yang dapat diterima secara universal.
3.    Alfred Binet (dalam irfan, 1986) mengemukakan bahwa intelegensi adalah suatu kapasitas intelektual umum yang antara lain mencakup kemampuan-kemampuan:
a.    Menalar dan menilai
b.    Menyeluruh
c.    Mencipta dan merumuskan arah berfikir spesifik
d.    Menyesuaikan fikiran pada pencapaian hasil akhir
e.    Memiliki kemampuan mengeritik diri sendiri
4.    Menurut spearman (dalam irfan, 1986; mangkunegara, 1993) aktifitas mental atau tingkah laku individu dipengaruhi oleh dua factor, yaitu factor umum dan factor khusus dengan kemampuan menalar secara abstrak.
5.    David Wechsler (dalam Azwar, 1996) mendefenisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

B.   Perkembangan Intelektual Pada Masa Remaja
      Pada periode remaja intelegensi berkembang semakin berkualitas dengan bertambahnya kemampuan remaja untuk menganalisis dan memikirkan hal-hal yang abstrak, akibatnya remaja makin kritis dan dapat berfikir dengan baik. Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh teori-teori dan ide sehingga menimbulkan sifat kritis terhadap lingkungannya. Pendapat orang tua sering membandingkan-bandingkan dengan teori yang dinternalisasi remaja. Akibatnya, sering terjadi pertentangan antara sikap kritis remaja dan aturan-aturan, adat-istiadat, kebebasan, dan norma-norma yang berlaku dilingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
      Sebagai akibat remaja telah mampu berfikir secra abstrak dan hipotesis, maka pola piker remaja menunjukan kekhususan sebagai berikut.
a.    Timbul kesadaran berfikir tentang berbagai kemumngkinan tentang dirinya.
b.    Mulai memikirkan bayangan tentang dirinya pada masa yang akan datang.
c.    Mampun memahami norma dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya.
d.    Bersifat kritis terhadap berbagai masalah yang akan dihadapi.
e.    Mampu menggunakan teori-teori dan ilmu pengetahuan yang dimiliki
f.     Dapat mengasimilasikan fakta-fakta baru dan fakta-fakta lama.
g.    Dapat membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting.
h.    Mampu mengambil manfaat dari pengalaman.
i.      Makin berkembangnya rasa toleransi terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengannya.
j.      pendapat dengannya.
k.    Mulai mampu berfikir tentang masalah yang tidak konkret, seperti pemilihan pekerjaan, kelanjutan studi, dan perkawinan.
l.      Milai memiliki pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
Taraf kecerdasan masing-masing individu tidak sama, ada yang rendah, sedang, dan ada yang tergolong tinggi. Perbedaan itu sudah ada sejak lahir, namun perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

C.   Faktor-Faktor Yang Mepengaruhi Perkembangan Intelektual
Banyak yang secara langsung maupun tidak langsung mepengaruhi perkembangan intelektual. Menurut Ngalim Purwanto (1986) faktor-faktor yang mepengaruhi perkembangan intelektual antara lain.
1.    Factor pembawaan (genetik)
      Banyak teori dan hasil penelitian menyatakan bahwa kapasitas intelektual dipengaruhi oleh gen orang tua. Dalam hal ini ada yang mengatakan bahwa genetik ayah cendrung dominan mepengaruhi tingkat kecerdasan anaknya. Teori konvergensi mengemukakan bahwa anak yang telah lahir telah mempunyai potensi bawaan, tetapi potensi tersebut tidak dari lingkungan. Intelektual mengandung potensi bawaan, tetapi untuk dapat berfungsi dan berkembang seoptimal mungkin sebagai mana mestinya perlu mendapatkan pendidikan dan latihan dari lingkungan.
2.    Faktor gizi
Perkembangan intelektual baik dari segi kualitas maupun kuantitas tidak terlepas dari pengaruh factor gizi. Kuat atau lemahnya fungsi intelegensi juga ditentukan oleh gizi yang memberikan energi/tenaga bagi anak sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kebutuhan akan makanan bernilai gizi tinggi (gizi berimbang) terutama yang besar pengaruhnya pada perkembangan intelegensiialah pada masa prenatal (anak dalam kandungan) hingga usia balita, sedangkan usia di atas lima tahun pengaruhnya tidak signifikan lagi.
3.    Factor kematangan
      Perkembangan fungsi intelegensi dipengaruhi oleh kematangan organ intelegensi itu sendiri. Menurut piaget (dalam mudjiran, 2007) seorang psikologi dari swiss membuat empat pentahapan kematangan dalam perkembangan intelegensi. Tahap pertama disebut periode sensorik motorik (0-2 tahun), tahap kedua disebut periode preoperasional (2-7 tahun), tahap ketiga disebut periode operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap ke empat disebut periode operasional formal (11-16 tahun).
      Pendapat Piaget (dalam mudjiran, 2007) membuktikan bahwa semakin bertambah usia seseorang, intelegensinya makin berfungsi dengan sempurna. Ini berarti factor kematangan mempengaruhi struktur intelegensi, sehingga menimbulkan perubahan-perubahan kualitatif dari fungsi intelegensi. Perkembangan intelegensi semakin meningkat usia ke arah dewasa bahkan semakin tua, orang semakin cermat menganalisis suatu persoalan karena didukung oleh pengalaman-pengalaman hidupnya.
4.    Factor Pembentukan
Pendidkan dan latihan yang bersifat kognitif dapat memberikan sumbangan terhadap fungsi intelegensi seseorang. Misalnya, orang tua yang menyediakan fasilitas sarana seperti bahan bacaan majalah anak-anak dan sarana bermain yang memadai. Semua ini dapat membentuk anak dengan meningkatkan fungsi dan kualitas pikirannya. Situasi ini akan meningkatkan perkembangan intelegensi anak disbanding anak seusianya.
5.    Kebebasan Psikologis
Perlu dikembangkan kebebasan psikologis pada anak agar intelegensinya berkembang dengan baik. Orang tua atau orang dewasa lainnya yang suka mengatur, mendikte, membatasi anak untuk berpikir dan melakukan sesuatu, membuat kecerdasan anak tidak berfungsi dan tidak berkembang dengan baik, terutama aspek kreativitasnya. Sebaliknya, anak yang memiliki kebesan untuk berpendapat, tanpa disertai perasaan takut atau cemas, dapat merangsang berkembangnya kreativitas dan pola pikir. Mereka bebas memilih cara (metode) tertentu dalam memecahkan persoalan. Hal ini mempunyai sumbangan yang berarti dalam perkembangan intelegensi.
Mappiare (dalam mudjiran, 2007), mengemukakan tiga factor yang dapat mempengaruhi perkembangan intelegensi remaja yaitu berikut ini :
1.    Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia berpikir selektif
2.    Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berfikir proporsional.
3.    Adanya kebebasan berpikir menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis yang radikal dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

1 komentar:

  1. jika sudah terlanjur,, hal apakah yng harus kita lakukan

    BalasHapus